Cuaca
sangat bersahabat hari ini. Langit cerah memancarkan sang surya beserta
hembusan angin membawa semangat pagi. Aku merasa semangat sekali untuk kuliah
hri ini tentu aku tidak mau kalah sama matahari yang terus bersemangat
menyinari bumi. Seperti biasa, ku kayuh sepedaku untuk sampai di tempat yg
penuh dg ilmu itu meski terkadang buatku frustasi dengan tugas-tugas sebagai mahasiswa. Di kampus, ku brteman
dengan Ryzka, tapi umurnya lebih muda dariku. Ada yang bilang, kami seperti
kakak dan adik kandung. Itu wajar bagiku, karena perlakuanku terhadapnya tidak
seperti teman melainkan saudara tapi tak sedarah.
Setelah
sampai di kampus, tak beda dengan anak-anak yang memakai sepeda motor dan
kendaran lainnya, ku parkirkan sepeda kesayanganku sebelum menuju kelas.
tak
begitu lama, ku bertemu dengan Ryzka yang sedang duduk-duduk di bangku taman
yang sepertinya sedang menunggu seseorang.
"Annyeong
eonni.. Wah, eonni trlihat smangat. Hbis mimpi apa semalem? kok tumben
amat" sapanya duluan
"heh,
anak kecil, Apa yang kau katakan. Tiap hari aku jg semangat kan.."
"apa??
Anak kecil?? Kyaaa...!!! aku bukan anak kecil lagi. Apa eonni gx liat aku
sebesar apa sekarang"
"hehehe,
cma brcanda kok saeng. Oh ya, kau sedang apa di sini?”
“Cuma
duduk aja. Ayo duduk sini” diapun menarik tanganku untuk duduk di sampingnya.
“Oh
ya, gimana perkembangan hubungan eonni sama Donghae oppa?”
_FLASH
BACK_
2
tahun yg lalu, appaku dipindah kerjanya di Korea. Kami di sana cuma 2 tahunan.
Namun wktu 1 tahun itu meninggalkan kenangan yang menyenangkan.
Sekitar
pukul 8 malam, ku disuruh eommaku untuk mengantarkan makan mlam ke kntor
appaku. Karena terburu2, tak sengaja ku menabrak seorang namja.
"mianhae..mianhae..
Ku tak sengaja" ucapku dan langsung mengambil paket makanan yg telah jatuh
di lantai.
"Mangkanya..
Hati-hati.." ku hanya kaget mendengar balasan namja tu yang trkesan dingin
dan sekilas melihat wajahnya yang sepertinya sangat kesal.
Tak
memperdulikannya lagi, kupun menelfon appaku tentang kejadian ini. Syukurlah
appa gx marah. Tak lama kemudian eommaku telfon, dan menyuruhku cepat pulang.
Setelah sampai rumah, eomma menyuruhku cpat tidur. Maklum aja, di Korea
sekarang lagi musim dingin, kalau tidak segera tidur, ku pasti tidak akan bisa
tidur gara-gara kedinginan.
Bunyi
alarm membuat bising seluruh isi kamar. Itu berarti waktunya ku bangun dan
meghentikan lelapan mimpi semalam. Setelah selesai mandi, ganti pakaian,
sarapan, dan lain-lain, kupun berangkat sekolah di salah satu SMA terkenal di
Seoul. Karena jarak apartement dan sekolah tidak jauh, ku memutuskan untuk
berjalan kaki sekalian menikmati udara pagi di tengah kota.
Meskipun
ku sudah beberapa minggu sekolah di sini, tapi masih terasa asing bagiku.
Sekolah di negeri orang memang tak semudah yang ku kira. Ku fikir, dengan bekal
bahasa inggris yang cukup, ku mampu berinteraksi dengan lingkungan di sini.
Tapi ternyata, prosesnya cukup lama juga.
Setelah
beberapa menit berjalan, akhirnya sampai juga. Tapi sewaktu menuju kelas, lagi lagi
ku di tabrak seseorang.
“Auhh..” rintihku
"Mianhae
" ucapnya sambil berlari dan
langsung pergi begitu saja
"Heh,
kau! Tak punya mata apa! #ku emosi banget karena badanku sakit habis jatuh ditabraknya
.
mendengar
ucapanku tadi, namja tadi langsung berhenti dan menoleh ke arahku. Dengan raut
mkanya yg mrah, dia prlahan mndekatiku
"bisakah
kau mengulangi perkataanmu tadi" amarahnya mulai muncul
"uhmm..
Tidak, ku tidak mengatakan apa2" ucapku sambil menunduk. Ku takut, karena
sepertinya dia sangat marah
"hah..
dasar..gtu ja mrah2, dasar, yeoja aneh."
"kyaaa..
apa kau bilang tadi. Ku bukan yeoja aneh tau. Lihat tanganku sakit habis jatuh
gara-gara kau tabrak. Semestinya aku yang marah, kenapa kau yang marah..?? ihh"
"mwo??
Kau gx trima?? Apa kau tak tau siapa aku?? Sudahlah, nggak pnting berurusan dengan
yeoja spertimu " Diapun pergi
meninggalkanku
"dasar..
Namja menyebalkan..!!" teriakku dari belakang
.
Tak
terasa jam sekolah hari ini telah usai. Belpun mulai terdengar seisi sekolah.
Waktunya semua siswa untuk pulang. Waktu keluar kelas, lagi lagi ku bertemu
namja menyebalkan itu. Aissh.. Sial bgt ku hri ini ><.
"kalau
kau psang raut muka kaya gitu, setanpun pasti takut melihatmu" canda temenku
yg bernama Hye Rin
"emangnya
da pa sih??" tambahnya lagi
"Tuh,
ada namja mnyebalkan!!" ujarku sambil menunjuk namja tadi
"hah??
Mksutmu Lee Donghae?? Apa kau sdah gla?? " ucap temanku kaget
"owhh,
jadi namanya Lee Donghae, namanya jelek banget. Nama apaan itu " acuhku
"kyaa,
tutup mlutmu. Dia itu siswa terpopuler di skolah ini. Namanya sangat keren
tau. Ditambah lagi wajahnya juga ganteng
banget. Stylenya beda dengan anak-anak pelajar biasanya. Wajarlah dia anak
orang kaya. Apa kau tak tau itu? " jelas Hye Rin smbil snyum2 sndiri
"enggak.
Tapi dia lumayan juga sih" jawabku polos
"mwo??
Lumayan?? Apa kau sedang tidur?? Kau itu..............(bla bla bla)" oceh
Hye Rin
"ahhh..
STOP!!! Kau bikin kepalaku pusing. Udahlah, ktia pulang ja y.. Ku udah laper, pengen
mkan masakan eommaku trcinta. Hehe :) " ujarku pada Hye Rin
kamipun
plang brsama2. Sesampainya di rumah, ku critakan ke eomma ttg namja mnyebalkan
itu. Akibatnya ku malah di suruh minta maaf ke namja tu. Aiisshh.. aku kan
nggak salah, kenapa aku yang di suruh minta maaf, ihh.. Ogah.. -_-
Karena
ini suruhan eommaku, dengan terpaksa ku meminta maaf ke dia. Padahal ku nggak
punya niatan sama sekali.
sewaktu istirahat, kupun menaruh sebuah kotak yang isinya sebungkus cokelat
*ini memang sudah kebiasaanku, kalau meminta maaf ke seseorang, ku akan
memberikannya sebungkus cokelat* beserta sepucuk surat perminta maafanku.
Ku
sengaja taruh di lokernya agar para siswa yang lain tidak tau. Tentu saja aku
nglakuin hal ini di temani Hye Rin sore-sore di Sekolah.
#keesokkan
harinya
Matahari
kmbali menggeser kegelapan malam. Waktunya untuk skolah.. "moga aja hari ini
hari yang menyenangkan. okelah..FIGHTING..!! ^^"
@SCHOOL
"oh
Tuhan, semoga ku tak bertemu namja yg bernama Lee Donghae itu." itulah sepenggal doa yg ku ucapkan saat
melewati gerbang sekolah.
Zreettt..
Sosok
orang yang sama sekali nggak ingin ku lihat itu tiba-tiba muncul di hadapanku.
"Aaisshh,
knapa ni bocah ada di sini " gumamku dlam hati smbil melewatinya dan
brpura-pura tak mlihatnya.
"Hei,
Kau.." Ujarnya dg keras
#ku
berpura-pura tak mndengarnya
"Hei,
yeoja babo! " ucapnya lagi dengan nada sedikit tinggi
dengan
terpaksa ku mnolehnya mskipun ku enek liat wajahnya.
"mwo??
Da pa lg??" ucapku kesal
"apa
ini darimu?" diapun mnunjukkan sebuah kotak yg ku selipkan di lokernya sebagai
tanda minta maaf kemarin
"ani..
nggak da krjaan ku ngasih barang begituan" sebenarnya ku gugup melihat
kotakku sendiri. Tapi ku berusaha meredamnya.
"trus
ini apa?? " dia menunjukkan sepucuk surat yang ku selipkan di kotak tu dan
memang tertulis namaku di sana.
Teman-temannya
hanya mnertawaiku dan membuatku sangat malu.
"itu..itu..uhm..
Sudahlah sini, ku nggak jadi minta maafnya." ku rebut kotak tu dari
genggamannya
"kyaa..
apa yang kau lakukan!! Ini kan milikku" diapun merebut kembali kotak tersebut
"ternyata
kau tak ubahnya dengan yeoja2 lain. Kau pasti slah stu fansku *ge-er (aslinya
sih ia xD #gubrak) *. Karena kau satu-satunya fansku yang berani membentakku, kau
ku beri gelar fans special gmana *senyum evil (itu gya.a kyu, oppa -,-) *"
"heh,
ku bukan fansmu, dan nggak kan pernah jadi fansmu selamanya titik.!!"
kupun beranjak mninggalkan dirinya.
Sesampainya
di kelas, teman-temanku pada kebingungan mlihat raut wajahku terutama Hye Rin.
"waeyo??
Kau habis kesurupan?" tanya Hye Rin padaku.
"awas
kau Lee Donghae! Kau akan mati di tanganku! Arrgghh " amarahku yang
membuat temanku yang satu ini kaget.
"jadi
gara-gara Donghae oppa lg. Aigoo.. sebenarnya antara kau dan dia itu ada
apa...dan seharusnya kau itu...(bla bla bla) " temanku yang satu ini
memang tak habis-habisnya menceramahiku tentang namja menyebalkan itu.
Jam
pelajaran 7 dan 8 seonsaeng tidak ada, tapi di beri tugas. Aku dan Hye Rin memutuskan
untuk ke perpustakaan sekalian istirahat di sana. Nggak tau kenapa kalau di
dalam perpus tu rasanya nyaman banget. Mungkin karena suasananya yang hening
dan berbagai fasilitas yg disediakan.
"kajja..palli.."ajakku
smbil menggandeng tangannya
"ne
kajja " jawabnya
kamipun
menuju ke perpus dengan diselingi sedikit canda tawaan sepanjang perjalanan.
@perpustakaan
kami
sedikit kebingungan mencari buku yang kami butuhkan. Karena begitu banyak buku
yang ada di sni. Setelah beberapa lama mencari, kupun menemukan buku yg ku
butuhkan.
"ahh,
ini dia " kupun mengambil bku itu dari raknya.
Tapi
sewaktu mengambil buku itu, ternyata ada yang mengambilnya juga. Setelah ku
lihat siapa orannya, kyaa!! ternyata si
namja itu.
"kau!!
Apa kau tak bosan mengganggu hidupku?? Sekarang, kau mau merebut buku ini.. Ini
punyaku! Aku yang mnemukan dulu"
"ahh,
tidak bisa.. aku yang menemukannya dulu. Jadi ini punyaku."
"Apa
yang kau lakukan? Bisakah kau mengalah dr seorang yeoja??"
"kau
bukan yeoja, tp kau keledai yg bodoh :p"
"Lee
Donghae!!!"
kamipun
saling berebutan, karena tak kuat menahan tarikannya kupun jatuh, dan menindihi
tubuhnya yg kekar itu.
#aigoo.. ku di atas tubuh haeppa..??? *fly ^.^*
#plak.. balik ke cerita J
Suasana
jadi beda. Yang pertamanya penuh keributan, sekarang serasa sunyi. Dengan
posisi seperti ini, sungguh ini sangat tak biasa bagiku. Amarahku tiba-tiba
hilang. Ku hanya terdiam sejenak melihat tatapan matanya. Tatapan ini sama sekali
tak pernah kulihat sebelumnya. Saat ini matanya terlihat beda, seperti ada
kata-kata yang ingin terucap. tak seperti biasanya yang penuh dengan keangkuhan
dan perasaan jengkel. Jantungkupun mulai berdetak kencang. Tidak tau kenapa, ku
sama sekali tidak ingin beranjak dari atas tubuhnya. Rasanya begitu nyaman.
Aroma parfumnya yang begitu lembut itupun mulai terasa.
Namun
tiba-tiba Hye Rin datang, dan mlihat kami berdua.
“
Kalian.........???”
Dengan
kedatangannya yang tba-tiba, tentu membuat kami berdua kaget dan segera
berdiri.
“Hye,,Hye
Rin??”
"Ap..ap..apa
yang kalian lakukan" tanyanya dengan sejuta keraguan di matanya
"ini
tak seperti yang kau fikirkan. Sungguh!! Kau percaya padaku kan?? " ku
mencoba menjelaskan tentang apa yang terjadi tapi sepertinya Hye Rin sama sekali
tak percaya padaku. Sedangkan namja menyebalkan itu pergi begitu aja entah
mulai kapan.
"sudahlah,
ayo kita kerjakan. Ku ingin cepat pulang" bentaknya
Setelah
hampir satu jam, tugas kamipun selesai, dan Hye Rin terlihat terburu-terburu untuk
pulang. Dia bahkan tak pamit padaku.
"
Mianhae, chinguya.."
Kini
saatnya sang bulan sebagai penghias langit beserta bintang-bintang kecilnya
yang bersinar. Ini waktunya ku belajar, karena besok ku ada ujian. Namun ku sama
sekali merasa tak tenang dengan kejadian di perpus siang tadi dan sikap Hye Rin
yang sekarang sedang marah padaku. Hand phonenya juga mati. Dia benar-benar
marah padaku.
Tiba-tiba
hand phoneku berdering, dengan segera ku raih dan berharap Hye Rinlah yang
menelfon. Ternyata ku salah, no tak dikenalpun yang ku dapat. Huft..
"yeobseyo"
"yeobseyo"
"nuguseyo"
"aku
namja yang di perpus tadi siang"
"Mwo??
Apa kau..??" jawabku gemetar
"ne.
Ini aku"
"untuk
apa kau mnelfonku?? Dan tau dari mana no handphoneku?? Apa kau mau membuatku
marah lagi?? " jengkelku
"eh,
keledai bodoh, ku tak ingin cari ribut denganmu”
“terserah!
Trus kau mau apa?”
“Aish,
ternyata kau tak hanya bodoh, tapi kau juga pemarah. Apa ada yeoja seperti
itu.”
“tidak
perlu basa basi. Cepat katakan, kau mau apa?”
“aku
masih teringat kejadian tadi siang “
“tidak perlu diingat-ingat. Ku
bahkan sudah melupakannya.”
“semudah
itukah? ”
“ne, wae?”
“ani.
ku yakin itu yang pertama kalinya bagimu”
“emang
apa urusanmu?“
“benarkan,
yeoja polos sepertimu pasti ini yang pertama kalinya.”
“Heh,
kau jangan sok tau! Pasti namja sepertimu itu sudah melakukannya beberapa kali ya
kan?”
“ani,
ini juga yang pertama kalinya”
“mwo?
Jinjja?”
“Ne,,”
“maldo
andwae!”
“kalau
ini bukan yang pertama kali, ku tidak akan merasa seperti sekarang”
“memang
kau merasa apa? Aku biasa aja tuh”
“dasar
yeoja babo. Bagi seorang namja sepertiku, hal seperti itu tidak bisa di anggap
hal sepele”
“aku
juga begitu “ ucapku tanpa sadar
“Mwo?
Kau bilang apa tadi?“
“ahh,
ani..ani.. sudahlah ku mau belajar, jangan ganggu aku lagi.”
Percakapanpun
berakhir diantara kami.
#Keesokkan
harinya
@School
Seperti
biasa ku berjalan kaki ke sekolah. Namun hari ini kesannya beda, Hye Rin tak
bersamaku. Mungkin dia masih kesal padaku. Ku bisa mengerti perasaannya
sekarang, secara dari dulu dia memang suka sama Lee Donghae. Setelah sampai di
sekolahan, ku tak melihat Hye Rin sama sekali. Di kelas juga begitu, dia nggak
masuk sekarang. Apa dia sakit? Ku benar-benar khawatir padanya. Untuk itu ku
mau ke rumahnya sepulang sekolah nanti.
Waktu
berjalan cepat. Jam sudah menunjukkan puul 14.00 waktu korea. Dengan segera ku
keluar kelas, dan menuju rumah Hye Rin secepatnya. Namun ada aja gangguan,
sosok namja itu kembali muncul dihadapanku dan menarik tanganku gitu aja.
“heh,
kau mau apa? Ap..apa yang kau lakukan?? Hei.. Lee Donghae?? Kau mau mati apa??
Cepat lepaskan aku!! Hei...Lepaskan!! ” teriakku yang sepertinya tak
dihiraukannya sama sekali
“cepat
masuk ke mobil” dia memaksaku masuk ke mobilnya yang super keren itu.
Diapun
membawaku ke suatu tempat. Dan menghentikan mobilnya di suatu taman. Dengan di
perlakuin seperti ini tentu ku tambah kesal padanya. Diapun menyuruhku keluar
dari mobilnya.
“sebenarnya
tujuanmu membawaku kesini untuk apa?” tanyaku heran
Tiba-tiba
dia memelukku. Ku hanya terpaku tak berkutik dengan tindakannya ini.
“apa
yang kau lakukan? Kalau ada yang melihat gimana?” ku berusaha brontak tapi
dekapannya begitu erat dan membuatku tak mampu bergerak.
“ku
mohon, tetaplah seperti ini. Ini membuatku hangat”
“Lee
Donghae.............??” ku heran dengan
pernyataannya barusan
“kalau
temanmu tidak datang kemaren, mungkin aku akan memelukmu seperti ini. Tubuhmu
begitu hangat dan membuatku nyaman kemarin. ”
“apa yang kau bicarakan?? cepat lepasakan, kalau ada orang yang melihat gimana”
“baiklah”
Diapun
melepasku dari pelukannya. Sungguh, ku masih bingung dengan apa yang sedang
terjadi. Sebenarnya ada apa denganya. Dan kenapa jantungku berdetak lebih
kencang dari pada kemarin.
“aku mau pergi dulu. aku mau ke rumah temanku sekarang
karena ada urusan” ucapku dan langsung meninggalkannya
“apa kau harus mennggalkanku begitu saja.. Hei..!!”
teriaknya dari belakang
Ku terus saja melanjutkan langkah kakiku dan tak
memperdulikan apa yang dia katakan. Pikiranku benar-benar kacau sekarang.
Kalau Hye Rin tau semua ini, pasti dia akan tambah sangat
marah padaku. Bisa-bisa pertemanan kami
hancur begitu saja gara-gara masalah ini. Oh Tuhan, ku benar-benar tak ingin
menyakitinya. Dia sudah salah paham. Trus dengan cara apa ku menjelaskannya
agar dia percaya padaku. God, help me!
Hand phone yang dari tadi nggak ku urus, bergetar juga.
Ternyata ada sms dari Hye Rin
“bisakah kita bertemu di tempat biasa sekarang?”
Kupun menuju sebuah cave tempat yang biasanya kami kunjungi.
Ternyata Hye Rin sudah sampai di sana.
“bagaimana kabarmu?” sapaku dulu sebagai awal pembicaraan
“bagaimana denganmu, apa kau merasa baik-baik saja?”
“tentu tidak!”
“apakah Lee Donghae tidak membahagiakanmu?”
“kyaa,, apa yang kau bicarakan? Ku sama sekali tak punya
hubungan apapun dengannya. Kau kan tau sendiri, ku bahkan mengenalnya beberapa
hari yang lalu. Itu mustahil kalau ada sesuatu di antara kami”
“jinjja?? Trus apa yang kalian lakukan kemarin. Itu sama
sekali bukan kau. Ku serasa melihat orang lain. Untung saja aku yang
memergokimu, kalau orang lain gimana? Terlebih lagi kalau guru. Apa
kau nggak mikir, nama baikmu akan tercemar. Apa lagi di kalangan fansnya itu.
Bisa-bisa kau di bunuh oleh mereka.”
“ne, aku tau. Mianhae, jeongmal mianhae. Ku memang bodoh.
Bodoh sekali. Kau pasti terluka karena masalah ini, Mianhae.. apa kau mau
memaafkanku” ku benar-benar merasa
bersalah padanya.
“ne, ku memang sakit melihat kalian. Tapi ya sudahlah, ku
tak tega melihat kau begini. Kita kan teman. Nggak mungkin kita berantem terus
kaya gini. Lagi pula nggak baik kan kalau di terus-terusin”
“kau memang teman terbaikku ^^ “ kupun memelukknya sebagai
tanda terima kasihku padanya.
Setelah itu ku berkeliling kota dengan Hye Rin sambil
melupakan hal-hal yang telah terjadi sebelumnya. Sewaktu di museum, lagi lagi
hand phone ku berdering. Setelah ku lihat siapa yang menelfon, ternyata si
namja aneh tadi. Sengaja ku langsung mematikan hand phoneku.
“knapa nggak di angkat?” tanya Hye Rin keheranan
“uhm..tidak.. tadi appa yang telfon. Ku nggak mau merusak
suasana hari ini. Mangkanya ku matiin aja hand phoneku” nggak mungkin ku bilang kalau dari Lee
Donghae, bisa-bisa Hye Rin marah lagi.
“hahaha.. santai aja kali.. sebuah telfon nggak akan merusak
event kita hari ini. Apa lagi itu dari appamu”
“hufftt...” ku lega karena Hye Rin percaya
“kayanya sampai sini dulu. Pasti appamu telfon nyuruh kau
cepat pulang”
“ahh..tidak perlu khawatir.. ku nggak kan di marahi kok”
“sudah sana pulang!”
“hajiman....”
“dasar yeoja bandel. Udah sana.. annyeong.. josimhaeya
(hat-hati)!”
Kupun
pulang dan meninggalkan Hye Rin sendirian di museum.
Ini
semua gara-gara kau Lee Donghae. Acaraku rusak gara-gara kau. Awas kau.
Uhhh...!!!
#Keesokkan
harinya di sekolah
Ku
sangat lapar sekarang. Kupun mengajak Hye Rin ke kantin. Kantin di sekolah ini
menunya memang enak-enak. Meskipun ku lidah Indo, tapi enak juga makan makanan
khas korea. Menu favoritku adalah Ho-tteok (sejenis
pancake, namun diisi dengan bahan sirup seperti gula merah, madu, kacang parut
dan kayu manis.) dan teh korea. Sewaktu makan, tiba-tiba
Donghae muncul dan duduk di bangku belakangku. Ketika melihat wajahnya saja,
nafsu makanku jadi hilang. Sedangkan Hye Rin malah senyum-senyum sendiri. Ku
hanya ke heran melihat temanku yang satu ini. Memang apa sih yang di tunjukkan
oleh seorang Lee Donghae, sehingga semua yeoja gila karenanya.
Drt...Drt...Drt..
Hand phoneku bergetar
=>one massage from a crazy namja<=
“hei, keledai bodoh”
“Aish, ni orang.. dasar gila.. di belakangku masih sms.. namja aneh” jengkelku dalam hati
“apa? Kau mau apa?”
“ kau sedang apa?”
“apa kau tak lihat, ku sedang makan.
Trus kenapa kau kesini? Mau buatku marah lagi??”
“ini kan sekolah, semua siswa bebas
kesini. apa kau marah gara-gara ku peluk kemarin. Sungguh aneh jika kau marah
gara-gara dipeluk namja sepertiku”
Ku nggak tau harus bilang apa. Nggak
mungkin kan kalau ku katakan yang sebenarnya. Kupun memutuskan untuk kembali ke
kelas meskipun makananku belum habis. Hye Rin yang melihat sikapku, hanya diam
saja namun menatapku dengan pandangan yang aneh. Ku takut dia berfikir yang
bukan-bukan lagi. Kalau sampai di marah lagi, tidak akan ada kata maaf untuk
namja menyebalkan itu.
#Pukul 14.00 waktu korea
Hye Rin tidak bisa menemaniku pulang
kali ini karena harus ke rumah saudaranya. Terpaksa ku pulang sendirian.
Langkah demi langkah ku melawati koridor
sekolah. Sambil menunduk, ku teringat perkataan Lee Donghae sewaktu di taman
kemarin. Kata-kata yang sama sekali tak ku duga itu, memenuhi pikiranku
sekarang. Karena banyak melamun, alhasil kepalaku terbentur tembok.
“sepertinya yang tidak punya mata itu
kau” ujar Lee Donghae yang membuatku kaget akan kedatangannya yang tiba-tiba
“diam kau!” cetusku
“kajja...ikut aku” ajaknya yang
lagi-lagi menarik tanganku
“ eodie??”
Lagi-lagi dia membawaku ke suatu tempat.
Tapi kali ini dia membawaku ke Namsan Seoul Tower. Entah apa yang ada di
pikirannya sampai-sampai tubuhku di bawa ke sini. Diapun memintaku naik gondola
bersamanya.
“pemandangan yang indah bukan?”
“ne,
ini memang sangat indah”
“ehm,
ada sesuatu yang ingin ku katakan”
“hahaha..apa
kau mengajakku ke sini hanya untuk mengatakan sesuatu? Kenapa tidak waktu di
sekolah tadi, kan sama aja..hehe” aku berusaha menghibur diriku sendiri yang
sebenarnya tegang dari tadi dengan sedikit ketawa
“apa
ini lucu bagimu?” kupun diam dengan
pernyataanmu itu
“kau
tau, ku pernah membuat janji di sini”
“janji?
Janji apa?”
“dulu
ku pernah di ajak orang tuaku di sini. Ku sangat terpukau dengan pemandangan di
tempat ini. aku ingin menikmati
pemandangan seperti ini dengan orang yang ku anggap spesial. Aku ingin berbagi
kebahagiaan yang ku rasakan di tempat ini dengannya”
Ku
hanya diam tak berkata melihat matanya yang indah itu. Apa yang di katakannya
barusan membuatku gemetar. Tiba-tiba dia menatapku dengan tatapan serius.
“matamu
sangat indah” ujarnya sambil sedikit membelah poniku yang sedikit menutupi
mataku
Tiba-tiba
ponselku berbunyi dan merusak suasana tadi.
........Shining
Star. like a little diamond makes me love
Naegen kkoomgyeolgateun dalkomhan misoro nal barabomyeo soksagyeojweo
Hangsang hamkke halgeora till the end of time...........
“Arghh”
ku dengar dia sedikit kecewa
“hufftt..syukurlah”
hatiku berkata
Ternyata
eommaku yang telfon. Dan menyuruhku cepat pulang.
“ehm..mianhae..aku
di suruh pulang sama eomma.” Ucapku padanya
“owh,
baiklah ku antar kau pulang” nadanya
pelan. Sepertinya dia menyesali keadaan ini.
Lee
Donghaepun mengantarkan aku pulang. Setelah samapi rumah...
“mianhae.
Telah membuatmu mengantarkan aku pulang. Dan gomawo untuk yang tadi. Ku begitu
mnikmatinya”
“gwaenchana.
Aku pulang dulu”
“ne,
josimhaeya “
Diapun
pergi. Meliahatnya pergi ku merasa aneh. Serasa tak rela membiarkannya begitu
saja.
Sewaktu
ingin tidurpun, hanya raut mukanya yang terlihat di benakku.
“Oh,
Tuhan, aku ini kenapa?”
Keesokkan
harinya ku masih memikirkan kata-katanya semalam. Ingin sekali ku cerita ke
seseorang, namun aku harus curhat sama siapa. Nggak mungkin ku cerita ke Hye
Rin. Masalah ini benar-benar buat kepalaku serasa mau meledak.
Ketika
menuju ke kelas, ku betemu dengan Lee Donghae, dia hanya tersennyum padaku.
Tanpa sadar kupun memblas senyumnya yang manis itu.
“apa
yang aku lakukan..!! ku kan membencinya. Kenapa ku membalas senyumnya itu.
Aishh.. aku ini kenapa?? Apa aku..ahh tidak..tidak..tidak.. dia kan namja aneh
menyebalkan yang suka mengganggu hidup orang. masa’ ku suka sama orang kaya
gitu ”
Lagi
lagi hpku bergetar
Drtt...Drtt...Drt...
=>one massage from a crazy namja<=
“sepulang
sekolah temui aku di taman belakang sekolah”
Sesuai
permintaannya, aku menemuinya di taman belakang sekolah. Setelah bertemu
denngannya...
“ku
kira kau tidak akan datang” ucapnya
“sudahlah..
memang ada apa” balasku
Dia
hanya terus menatapku dengan tersenyum. Dengan di perlakukan seperti ini,
jantungku mulai berdetak kencang, keringat dinginpun mulai keluar di telapak
tanganku. Tiba-tiba dia menciumku.
Tentu
ku brontak dan langsung menamparnya.
“Heh,
sebenarnya kau mau apa?? Apa kau menganggapku wanita murahan?” amarahku mulai
membludak dan langsung pergi meninggalkannya.
Namun
sewaktu ingin melangkah pergi, tanganku di tariknya dan membuatku dipeluknya.
“ku
mohon, kau jangan bersikap seperti ini. Ku sama sekali tak tak tahan jika kau
terus marah padaku. Apa kau sangat mebenciku?”
Aku
hanya terdiam sesaat
“saranghaeyo,
jeongmal saranghaeyo” desahan kata-kata yang ku dengar itu membuat dentuman di
telingaku
“andwae!!!
” bantahku dan langsung melepaskan diri dari pelukannya
“waeyo??
Apa kau....??”
Kupun
membelakanginya..
“sebenarnya
aku...aku...aku memiliki perasaan yang sama.. hajiman.... ini tak boleh
terjadi!!”
Mendengar jawabanku tadi, tentu Lee
Donghae merasa aneh. Ini merupakan pertama kalinya dia menyatakan perasaannya
ke seseorang namun juga merupakan yang pertama kalinya di tolak seseorang.
Diapun memutar tubuhku untuk
menghadapnya sesaat.
“tolong lihat aku. Dan katakan apa
alasanmu”
“tidak..ku tidak bisa melakukannya. Ini
begitu sulit untuk di katakan”
“apakah ada orang lain? Tapi bukankah
kau bilang kau punya perasaan yang sama?”
Perlahan-lahan ku menatap matanya meski
dengan pandangan penuh air mata yang dari tadi mengalir. Ku hanya terdiam.
“Oh Tuhan, apa yang aku lakukan ini
benar? Ku benar-benar telah membohongi perasaanku sendiri? Tapi kalau ku
menerimanya, seseorang akan terluka karenanya. Tuhan, apa yang harus ku
lakukan?? Sungguh tidak mungkin ku bahagia di sisinya sedangkan ada orang lain
yang akan menangis karena ini semua.”
Karena melihat keadaanku yang tidak
menentu, Lee Donghaepun mengantarkan aku pulang.
Sesampainya di rumah, kupun menuju
kamar.
Ku benar-benar tidak percaya dengan apa
yang telah terjadi. Apakah ini mimpi bagiku??
Karena tak tau mau curhat sama siapa,
kupun menulis sebuah diary
Dear,
diary..
Mengapa
kejadian seperti ini bisa aku alami..
Sebenarnya
hal apa yang Tuhan rencanakan
Seseorang
yang ku suka tiba-tiba menyatakan perasaannya padaku
Tentu ku
sangat senang mendengarnya
Namun,
Sebuah
nama tiba-tiba muncul di fikiranku
Hye
Rin.....
Dia
begitu sangat menyukainya
Sungguh
jahat jika aku merampas cintanya
Sungguh
pahit, jika seseorang yang dia sukai dari dulu telah menjadi milik orang lain
Ku akui
aku menyesal menolaknya
Tapi
akan lebih menyesal kalau ku menerimanya dan melihat pertemanan kami hancur
Apa yang
ku lakukan ini benar??
Dan
apakah ini suatu pengorbanan??
Ku sama sekali tak bersemangat untuk
sekolah hari ini. Tapi ku tak mau orang melihat keadaanku sebenarnya, untuk itu
ku tetap melakukan aktivitasku seperti biasanya meskipun kesehatanku agak
terganggu.
Setibanya di kelas, suasana terlihat
heboh seperti ada berita baru yang benar-benar aktual dan sangat menghebohkan.
Karena penasaran kupun bertanya ke Hye Rin
“ Sebenarnya ada apa?” tanyaku pelan
“kau kenapa?? Kau sakit?? “ tanya Hye
Rin cemas karena melihat tubuhku terlihat lemas sekali
“ani..ku tidak sakit..mungkin ku
kecapekan. Sudah jangan khawatir. Sebenarnya ada apa sih.. kok heboh banget”
“apa kau tak tau, namja yang kau benci
itu kabarnya kemaren menyatakan perasaannya ke seseorang. Huaa.. ku iri
sekaligus cemburu mendengarnya. Beruntung sekali yeoja itu. Ku penasaran siapa
tu yeoja?? Apa aku mengenalnya??”
Aku hanya tersenyum mendengarnya
meskipun rasanya ku ingin menangis. Tapi ku mencoba menahan air mataku supaya
tidak keluar
“tapi kabarnya juga, yeoja itu
menolaknya. Dia yeoja yang neomu neomu neomu baboya. Kenapa menolak namja
sekeren Lee Donghae. Seharusnya dia tuh bersyukur!! Jujur aku tidak suka mendengarnya”
Ku semakin tak tega jika mengatakan akulah
yeoja yang babo itu.
“aku sama sekali tak ingin menyakitimu”
ujarku dalam hati
#14.00 waktu korea
“Akhirnya pulang juga, oh ya ku besok
mau Namsan Seoul Tower bersama oppaku. Kau mau ikut??” tanya Hye Rin sambil
membereskan buku-bukunya
“Nde??”
ku sama-sekali tak dengar dengan ucapannya barusan
“mungkin gara-gara sakit, kau jadi aneh.
Suka melamun, wajahmu terlihat lesu seperti banyak fikiran, dan sekarang kau
tidak mendengarkan aku” ocehnya lagi
“hehe mianhae, ku benar-benar tak
mendengarnya” balasku
“aku tanya, apa kau mau ikut ke Namsan
Seoul Tower besok??”
“mwo?? Seoul Tower?? Un..untuk apa
kesana?”
“kenapa kau gugup, hanya liburan saja.
Ku sudah lama nggak kesana. Ikut ya...?? ayolah...temani aku.. ya..ya..??”
“hajiman...nan neun...”
“sudahlah, yang penting kau haris ikut..
setelah kesana, kau pasti merasa segar kembali tal lemas seperti ini J
“
“arasseo”
“okelah kalau begitu, ku pulang dulu
ya.. oppaku yang akan pulang akan ikut bersama kita, jadi banyak hal yang harus
ku siapkan. Gwaenchana??”
“ne, gwaenchana”
Kupun pulang sendiri. Ketika sampai
melewati gerbang. Tiba - tiba Lee Donghae ada di depanku. Melihatnya
langkahkupun ku hentikan untuk sesaat dan memutuskan untuk memutar arah
“Hei..!!” teriakya padaku yang semakin
jauh darinya
Ku tetap meneruskan langkah kakiku. Saat
ini ku benar-benar tak ingin bertemu denganya.
“apa kau mencoba menghindariku” teriaknya kembali dan membuat langkahku
berhenti
“sebenarnya kau kenapa??” ujarnya
kembali
“kau mau apa??”
“kau belum menjawab pertanyaanku”
“aku tidak apa-apa. Sudahkan?? Sekarang
kau mau apa??”
“haruskah kau bersikap seperti ini
padaku?”
“Sudahlah..jangan ganggu aku.. ku
benar-benar tak ingin bertemu denganmu
saat ini”
“apa karena kemaren??”
“bisakah kau tak mengingat kejadian itu ?”
ku mulai membentakknya
“Fine!! kita lupakan saja semuanya..
lupakan kejadian kemaren, lupakan kejadian waktu di Seoul Tower, lupakan
kejadian waktu di taman, dan terutama lupakan kejadian waktu di perpus. Kita
lupakan saja, dan tak perlu di ingat kembali..!! aku benar-benar sudah muak
denganmu..!!!” bentaknya seraya pergi meninggalkanku.
Aku yang melihat dia berkata seperti itu
dengan ekspresi muka yang begitu marah membuatku tak berdaya untuk menatapnya.
Kupun memutuskan untuk pergi ke suatu bukit. Ku benar-benar butuh ketenangan
sekarang. Ingin sekali ku menangis dan berteriak sekeras-kerasnya di sana. Ku
benar-benar marah kepada diriku sendiri.
Setelah beberapa jam ku menenangkan
diri, ku memutuskan untuk pulang. Ku ingin segera tidur dan berharap semua
kejadian yang terjadi di hari ini hanya mimpi belaka.
Seperti biasa, sekitar pukul 07.00
alarmku berbunyi dengan sangat nyaring. Namun, ku merasa aneh dengan kondisi
tubuhku. Sepertinya ku demam. Karena tak segera turun dari kamar, eommaku naik
ke kamarku, dan mencoba membangunkanku. Namun ku memilih untuk larut di dalam
selimut yang membuatku nyaman. Setelah telapak tangannya menyentuh keningku,
dia kaget karena suhu badanku cukup tinggi. eommapun membiarkan ku istirahat
dan tidak masuk sekolah hari ini. Ku
berfikir, apakah seseorang yang ada di sana tau kondisiku sekarang..?? apakah
dia akan menghawatirkanku...?? ku benar-benar bodoh. Itu sangat mustahil secara
dia sedang marah padaku.
Tiba-tiba hand phoneku berdering. Dengan
harapan kalau Donghaelah yang menelfon,
dengan segera ku raih. Setelah ku lihat di layarnya, dengan perasaan sedikit
kecewa, ternyata Hye Rinlah yang menelfon.
“Kau dimana sekarang? Kenapa tidak ada
di sekolah?”
“aku sakit”
“kau sakit?? Sakit apa?” tanya Hye Rin
cemas
“ku hanya sedikit demam kok.
Udah..jangan khawatr gitu.. aku nggak apa-apa”
“bener??”
“ne..”
“okelah aku akan ke rumahmu sepulang
sekolah nanti”
Seharian di rumah membuatku bosan. Ku
ingin sekali pergi keluar. Tapi sayang, nggak di izinin sama eomma. Hufftt.. ku
benar-benar merasa bosan. Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya Hye Rin
datang menjengukku. Tentu ku sangat senang dengan kedatangannya
“Annyeong”
“Annyeong.. akhirnya datang juga kau”
“bagaimana kedaanmu”
“seperti yang kau lihat, ku terbaring
lemah tak berdaya. Ini sungguh membosankan.”
“hahaha.. siapa suruh kau sakit. Kamarmu
besar juga ya.. sudah lama ku tak masuk ke sini” diapun berkeliling
,melihat-lihat isi kamarku
“perasaan biasa aja. Semuanya masih sama
seperti saat kau pertama masuk ke sini” ujarku sambil membaca komik
“mungkin... ohh..ini apa?” dia mengambil
sesuatu yang tergletak di meja belajarku
“apa sih??” Hye Rin terlihat serius sekali membaca
sesuatu.
“memang kau sedang baca apa?” tanyaku
yang tak dipedulikannya
Matanya terlihat serius sekali membaca
buku itu. Kupun semakin heran dan mendekatinya.
“serius sekali, memang kau sed...”
“Apa ini!!!!! “ tiba-tiba Hye Rin
melempar buku itu di depanku dengan sangat keras.
Setelah ku lihat buku apa itu ternyata
itu buku diaryku.
“Hye Rin-ah...??”
Matanya begitu tajam. Sepertinya dia
membaca tulisanku yang ku tulis waktu itu. Dia benar-benar sangat marah padaku.
Dengan cara pandangnya seperti itu, membuat tubuhku gemetar. Tak biasanya dia
marah dengan pandangan seperti ini. Setelah
itu dia keluar dari kamarku menuju keluar rumah. Kupun mengejarnya sampai di
jalan meski dengan kondisi yang masih lemah. Ku mencoba memanggilnya, tapi Hye
Rin tak memperdulikannya
“Hye Rin-ah.. Hye Rin-ah..tunggu aku...
ku mohon.. berhentilah...’’ dengan nafas yang terengah-engah ku mencoba terus
mengejarnya
Akhirnya diapun menghentikan langkahnya
“kau mau menjelaskan apa lagi?? Apa kau
mau berkata, ku tak bermakud begitu atau ku tak mau menyakiti sahabatmu?? Cepat
katakan!!”
“aku..aku...aku..” karena sudah tak kuat
lagi kupun pingsan.
Dengan ku pingsan secara tiba-tiba tentu
Hye Rin kaget melihatnya dan menjadi panik. Dan memanggil eommaku.
“ajuma....ajuma.. kau di mana??”
“mwoya??” eommakupun ikut panik
“putrimu pingsan!”
“Ya Tuhan.. !! sekarang dia dimana??”
Eommapun membawaku ke rumah sakit. Dia
benar-benar panik sekarang. Eommakupun menelfon appaku yang sedang bekerja di
kantor. Merekapun menungguku yang sedang di periksa di ruang UGD.
“ajuma..ajushi..mianhae...ini semua
gara-gara aku. Aku yang membuatnya mengejarku. Dia sudah berkali-kali
memanggilku,namun aku tak mendengarkannya. Jeongmal mianhae..” ujar Hye Rin ke
kedua orang tuaku
“sebenarnya apa yang telah terjadi..??”
tanya appaku
Setelah cukup lama di periksa, akhirnya
dokterpun keluar.
“dia hanya kecapekan. Namun fikirannya
sedang terganggu sekarang. Apakah ada masalah yang begitu membebani fikirannya
saat ini?” ucap sang dokter ke mereka
“setauku, dia tak punya masalah apa-apa.
Sekolahnya juga baik-baik saja”
“baiklah kalau begitu. Sementara dia di
rawat inap, karena demamnya cukup tinggi. Nanti tolong di urus bagian
administrasinya dan data lengkapnya di lobi” kata dokter ke kedua orang tuaku
“ne, kamsahamnida”
Setelah cukup lama aku pingsan, akhirnya
ku sadar juga. Perlahan-lahan ku buka kedua bola mataku melihat sekelilingku.
Namun sewaktu perlahan-lahan membuka mata, ku melihat ada orang asing yang
berada di sana. Setelah ku melihat dengan jelas, sungguh kaget bukan main,
ternyata orang asing tersebut adalah Lee Donghae.
“Lee...Dong..Hae...” ucapku perlahan.
Dia hanya membalasku dengan senyuman
“bagaimana keadaanmu sekarang, apa sudah
baikan?” ucapnya
Begitu senagnya ku bisa mendengar
kembali suaranya itu. Ku benar-benar sangat senang dengan kehadirannya di sini.
Sewaktu sadarpun, hanya dia yang ku pandangi. Tanpa sadar air mataku mengalir
melihatnya.
“Syukurlah kau sudah sadar. Kalau begitu
ku mau pulang dulu. Jaga kesehatanmu, jangan samapai kau pingsan lagi. Ajuma,
ajushi, dan oppa..ku pulang dulu ne. Annyeong. ”
“Hye Rin-ah, kau mau kemana?” tanyaku
“sudah, kau jangan fikirkan aku. Lebih
baik kau fikirkan kesehatanmu ok??”
“Hye Rin-shi, gomawo “ ucap Lee Donghae
“ne, cheonma” balasnya dan pergi
meninggalakn kami
Ternyata Hye Rinlah yang memberi kabar
ke Lee Donghae bahwa aku sedang ada di rumah sakit sekarang. Ku yakin, pasti
dia sangat terluka melakukannya.
Sudah hampir 1 minggu ku di rawat di
rumah sakit. Selama hampir satu minggu itupun, Lee Donghaelah yang sering
menjagaku. Ku sangat terharu dengan segala perlakuannya padaku. Namun, kini
kondisiku benar-benar pulih. Dan saatnya ku kembali ke apartementku tercinta.
Ku benar-benar rindu rumahku.
Ini hari pertamaku sekolah setelah
sekian lama dirawat di rumah sakit. Ku begitu semangat hari ini. Seperti biasa,
ku memilih untuk jalan kaki saja. Sudah lama ku tak melakukan rutinitasku yang
satu ini. Ku kangen Hye Rin. Semejak di rumah sakit beberapa hari lalu, ku
tidak lagi bertemu dengannya. Langkah demi langkah ku melewati gerbang sekolah
dan menuju ke kelas. Namun sewaktu di kelas, ku tak melihat Hye Rin sama
sekali. Kupun memutuskan untu mencarinya di taman sekolah (ini merupakan tempa
favoritnya). Ternyata benar, dia di sana.
“Hei..” sapaku sambil menepuk pundaknya
“kau masuk hari ini”
“tentu.. ku tak mau sakit terus.. ku bosan. Oh ya, sedang apa kau di sini?”
“tidak, ku hanya ingin mencari
ketenangan. Ini menyangkut Donghae oppa.”
Kupun kaget dengan perkataannya itu
“sudahlah, jangan bahas dia lagi”
“benarkah?? Aku hanya berfikir aku
adalah sahabat yang jahat yang menjadi penghalang hubungan antara sahabatku dan
orang yang sangat di cintainya”
“kya.. apa yang kau bicarakan”
“kau bodoh. Sangat sangat bodoh”
“maksudmu??”
“kau rela tak menerimanya hanya untuk
tidak ingin menyakitku untuk yang kedua kalinya”
“Hye Rin..??”
“kenapa kau berfikir seperti itu. Aku
hanya fansnya. Memang sih ini sangat menyakitkan. Tapi ini akan lebih
menyakitkan jika kau tak menerimanya hanya gara-gara yeoja sepertiku”
Aku yang mendengar pernyataannya, tak
kuasa lagi menahan air mataku.
“sudahlah jangan menangis, aku bahkan
tak menangis.” Guraunya
“Hye Rin...”
kupun memeluknya. Tak ku sangka ku
mempunyai teman sekaligus sahabat sebaik dia. Ku benar-benar bersyukur karena
Tuhan telah mempertemukanku dengan sosok seperti Hye Rin.
“sudah sana.. ungkapkan perasaanmu ke
dia.. ku yakin, dia pasti sedang menunggumu”
“Ne, gomawo J”
“kita kan teman, sudah sepatutnya ku mendukungmu
J”
Sewaktu asik-asik berbincang-bincang
dengan Hye Rin di taman, Lee Donghaepun datang dan menyapa kami brdua
“annyeong haseyo” sapanya
“ne, annyeong haseyo, oppa” jawab Hye Rin
“kenapa kau tidak jawab”
“aishh.. apakah hobimu yang selalu
mengganggu orang itu tidak bisa dihilangkan”
“sedangkan kau sendiri, apa hobi
pemarahmu itu tak bisa juga di hilangkan. Ku kira habis sakit kau jadi lemah
lembut”
Hye Rin yang melihat kami berdua hanya
ketawa.
“kalian lucu ya. Oh ya, ku kembali ke
kelas dulu ne..”
“ne, josimhaeya “
ucap Lee Donghae ke Hye Rin
“tuh kan, dia pergi gara-gara ada kau di sini”
“ya
udah ku pergi saja”
“eitts,
kau mau kemana. Ad..ada sesuatu yang ingin ka.takan“
“jinjja?”
“ne..”
jawabku sambil menunduk
“ini
berhubungan dengan kejadian yang di taman kemaren” sambungku
“kejadian
yang mana??” (ni orang nggak tau apa pura2 nggak tau -,-)
“ku
menerimanya “
“mwo??”
“aku
menerimanya...”
“bisakah
kau mengulanginya sekali lagi??”
“aku
menerima cinta dari Lee Donghae, apa itu cukup??” ku benar-benar jengkel
Diapun
memelukku.
“aku
percaya, hal ini akan terjadi juga”
Kupun
larut dalam pelukannya itu. Meski suhu di pagi hari sangat dingin, namun ku
merasa begitu hangat.
“chagiya...
apa bisa ku memanggilmu seperti itu??”
“menurutmu
bagaimana?? Dasar bodoh.. pertanyaan macam itu kenapa kau tanyakan”
Semenjak
hari itu, hari-hariku sering ku habiskan dengan Lee Donghae. Tempat yang sering
kami kunjungi adalah Namsan Seoul Tower seperti janjinya waktu itu. Meski ku
sering ke sana, tapi ku sama sekali tak merasa bosan, karena tempat ini ku
anggap sebagai saksi atas hubungan kami berdua.
Tak
terasa sudah 1 tahun lebih ku menjadi yeojachingunya Lee Donghae. Banyak
kenangan yang kami lalui. Terlalu banyak kenangan manis yang di ingat. Ku
merasa sebagai wanita terbruntung di dunia karena mendapatkan namjachingu
seperti Lee Donghae. Selain orangnya begitu romantis, dia juga sering
membuatkanku sebuah lagu dan menyanyikannya untukkku. Ku benar-benar merasa
special di hatinya. Kalau lagi aku sedih, dia selalu menghiburku dengan tingkah
konyolnya itu. Aku tidak tau lagi harus berkomentar apa tentang namja ini. Dia
terlalu sempurna di mataku.
@HOME
appa
dan eommaku menyuruhku berkumpul dengan mereka.
"chagi,
bsok adalah hari terakhir kita di sni. Kita akan kembali ke Indonesia. Tugas
appamu sudah selesai hari ini." ucap eommaku
"mwo???
Bsok.?? Secpat itu kah?? Ahh.. Andwae..andwae.." ku begitu terkejut
mendengarnya
"wae??
Apa kau tak merindukan teman-temanmu di Indonesia"
"hajiman...eomma..appa.."
rengekku
"sudahlah,
pokoknya kita pulang besok." tegas appaku
ku
hanya cemberut melihat mereka.
"omonaa..
Eotteokhae.?? Lee Dongahe?? tidak mungkin kalau ku jujur ku sudah punya
namjachingu di Seoul. Aigoo........
eotteokhae"
Hari
ini adalah hari terakhirku di Seoul. Aku sama sekali tak ingin meninggalkan
kota yang penuh kenanagan ini. Aku tak tau harus bilang apa ke hae. Jujur, ku
nggak mau pergi ninggalin dia.
Ku
tak bisa ninggalin semua itu begitu saja.
Karena
ini hari terakhirku, kupun ke sekolah mengambil barang-barangku di loker
sekalian pamit ke Hye Rin. Ku sengaja tak pamit ke Hae. Kalau ku melihatnya,
bisa-bisa ku malah tambah nggak rela berpisah dengannya.
“kenapa
kau tak pakai seragam?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di belakangku
“oh??
Kau.. aku tidak sekolah di sini lagi”
“mwo??
Apa maksudmu??”
“aku
akan kembali ke Indonesia. Dan mungkin nggak akan ke Korea lagi”
“kau
mau pulang?? Secepat ini kah?? Kenapa mendadak sekali?”
“ne,
aku tau. Aku juga baru tau kedua orang tuaku kemaren”
“kapan
kau berangkat??”
“nanti
malam. Aku tau ini sangat menyedihkan. Tapi mau bagaimana lagi”
“nanti
malam?? Kita bahkan tak membuat pesta perpisahan”
“sudahlah,
sebuah pesta perpisahan?? Untuk apa?? Aku yakin kita akan bertemu lagi suatu
saat nanti J. aku
pulang dulu ya”
“kalau
begitu ku akan mengantarkanmu ke bandara nanti malam”
Setelah
selesai, kupun kembali ke apartement. Ku beristirahat sejenak memikirkan hal
apa yang harus ku katakan ke Lee Donghae mengenai masalah ini
Tiba-tiba
hand phoneku kembali berdering.. Ternyata hae yang menelfon. ku nggak tau harus
jawab apa tidak. Sampai yang ke 3 kalinyapun dia telfon, ku masih tak berani untuk
mengangkatnya. Karena takut dia marah, telfonnya yang ke 4 ku angkat
"kau
ini knapa.. Kok nggak di angkat..aku takut terjadi sesuatu padamu"
"Mianhae,
oppa.. aku..."
"chagi,
kau knapa?? Suaramu.. Apa kau sakit??"
"aku
nggak sakit.. Hanya saja.."
"memangnya
ada apa??"
"oppa...”
“sebenarnya
ada apa..” tanya hae cemas
“(menangis)
sepertinya hari ini adalah hari terakhir kita bisa bertemu. Tugas appaku sudah
selesai di Korea. Rencananya nanti malam keluargaku mau balik ke Indo. Oppa..
Eotteokhae??"
Tuttttt..
Hand
phonenya langsung di matikan..
"oppaa..
Kyaa..kenapa di matikan..?? apa dia marah??"
1
jampun berlalu. Tiba-tiba terdengar ada seseorang yang mengetuk pintu. Kupun
menuju ruang tamu untuk membuka pintu.
#membuka
pintu
"nug..."
belum slesai bicara, seseorang yang datang tadi langsung memelukku
"Oppa..
kenapa kau..."#ku sangat kaget akan
kedatangannya
"ssstttt..
Jangan bicara lg"
#mempererat
plukan.a
"Ya
Tuhan, kra2 smpe kpan ku bsa brsama lg dgnya. Menjali khidupan brsama.a dg
moment2 sperti ini. Smpai kpan msa ini
akan brtahan. Ya Tuhan, ku sungguh tak bsa prgi meninggalkan.a" rintih.qu
dlam hti
"sdah
jangan menangis lagi " air matakupun di usapnya
"kalau
ini memang takdir kita, mau bagaimana lagi. tapi ku percaya, kita akan bersama
lagi, kita akan menikmati msa-masa ini lagi. Bahkan akan lebih indah. Mungkin
ini suatu ujian untuk hubungan kita. Tapi ku percaya padamu, chagi.. aku titip
perasaanku. Meski jarak kita jauh, namun
kau harus selalu menjaganya, arasseo.?? "
"ne..arasseo,
oppa.."
Kata-katanya
benar-benar menenangkanku. Ku tau, di balik
senyumnya itu, dia juga tak rela melepasku
"sebagai
simbol akan ketulusanku padamu, ku berikan ini untukmu #memakaikan kalung brliontin sepasang burung
merpati # tapi kau janji harus kembali.."
"aku
janji akan kembali untukmu"
"ku
pegang janjimu. Ku akan selalu menunggumu “ #mengecup keningku
Jam
sudah menunjukkan pukul 20.00, kini saatnya aku dan keluargaku bergegas menuju
bandara Incheon. Tak lupa juga Hye Rin ikut bersama kami untuk mengantarkan
kepergianku. Sebenarnya, ku ingin Donghae juga mengantarkanku, tapi katanya dia
tidak bisa. Masih harus menyelesaikan berbagai urusan di perusahaan
keluarganya. Ku mengerti akan hal itu, secara keluarganya memang pebisnis
besar.
@Incheon International Airport
“sepertinya
sampai di sini perjumpaan kita” ucap Hye Rin
Ku
hanya membalasnya dengan pelukan hangat dari seorang sahabat
“aku
janji akan kembali, jagalah dirimu baik-baik. Oh ya *bisik-bisik* ku titip hae
ya..”
“kalau
itu apa kataku. Kau tenang saja.”
“okelah
kalau begitu, ku pergi dulu.. Annyeong J “
“Annyeong..
kalau sudah sampai hubungi aku ya..”
“arasseo~”
Pesawatkupun
telah berangkat. Aku pasti merindukan negara ini, Hye Rin, dan terutama si
namja menyebalkan itu. Huaa,, ku tak sabar mau menginjakkan kaki di negeriku
tercinta. Indonesia.. I’m coming~~~~
Setelah
beberapa jam perjalanan, pesawatku telah sampai di bandara Soekarno-Hatta.
Dengan semangat ku menginjakkan kaki di negeriku yang sudah hampr 2 tahun ku
tinggalkan. Ternyata Indonesia tidak berubah sama sekali, tetap dengan suhunya
yang hangat. Di Korea ku kedinginan, di Indo malah kepanasan. Meskipun begitu,
ku tetap mencintai kedua negeri ini.
Tak
lupa ku langsung menelfon Hye Rin setelah samapi di rumah yang sudah 2 tahunan
ku tinggal.
#1
tahun kemudian
Waktu
tak terasa semakin berlalu. Sudah satu tahun lebih aku berpisah dengan dirinya.
Semenjak aku balik ke Indo,Lee Donghae jarang menelfonku, sms juga jarang banget
di balas. Tapi ku percaya, dia nggak kan berubah. Setiap perasaanku kacau karena sikapnya sekarang, ku selalu
mengingat kata-katanya 1 tahun lalu. Dan itu membuatku tenang kmbali.
_BACK
TO BEGIN_
Kuliah
memang buwatku capek. Belum lagi ada tes wawancara 2 bulan kedepan. Tapi
untungnya, Dosen-dosenku memberikan libur selama 2 blan kedepan untuk mempersiapkan
tes wawancara tersebut. Karena tes ini terbilang sangat penting.
Sambil
menghilangkan stres, ku dan Ryzka pergi ke sebuah perkebunan. Pemandangan di
sana terbilang sangat memukau. Udaranya juga sangat sejuk. Dan ini membuat
pikiranku jadi tenang.
Sambil
berjalan-jalan, kamipun sedikit mengobrol
"Eonni..
Liburan mau kmana?" sebelumnya dosenku memang menyarankan kami liburan sebagai
penghilang rasa penat akhir akhir ini
"Molla..
Eonni masih belum punya rencana.."
"bagaimana
kalau kita ke Korea. Ku udah dapat ijin dari eomma dan appa. Eonni kan tau, dari
dulu ku pengen ksana. Sekalian kita bertemu dengan namjachingu eonni..apa eonni
nggak kangen?? Mau y.."
"bagus
juga idemu..aku memang sangat merindukannya... eonni bilang dulu y.."
"Ok..
Ku tunggu"
Sepulang
dari perkebunan, kupun mendiskusikan masalah ini dengan keluargaku
"eomma..appa..
Ku ingin liburan ke Korea"
"mwo??
Kau mau apa kesana??" kata appaku yang smbil meminum secangkir kopinya
"ku
kan punya jatah liburan 2 bulan, sunnguh sayang jika tak di manfaatkan. ku
ingin lburan, kuliah buwatku stres. Ku juga nggak berangkat sendiri, ku bersama
Ryzka. Lagi pula ku ingin menemui Hye Rin di sana"
"ya
sudah kalau begitu, nanti passport dan tiketnya appamu yg ngurus. Jagan
lama-lama. 1 minggu saja sudah cukup." ujar eommaku
Senang
bukan main ku bisa ke Korea lagi. Ku sudah sangat merindukan Hye Rin dan tentu
saja namjachinguku itu. Yeyy..
kupun
segera menelfon Ryzka
"ne,
eonni.. eotteokhae?"
"eonni
dibolehin, saeng.. kita berangkatnya 3 hari lagi. karena banyak yang harus
disiapin"
"ok,
eonni.. Yeyy.. Kita ke Korea..” #kegirangan
_3
DAYS AFTER_
Hari-hari
yang ku tunggu akhirnya tiba juga. Hari ini ku bersemangat skali. Sudah tak sabar,
pngen menghirup udara di Korea.
@Bandara
Soekarno-Hatta
"chagi,
jaga diri baik-baik. Di sana kami tak menemanimu
seperti dulu. Kalau sudah sampai telfon eomma.. Arasseo??"
"Ne,
eomma.. Ku pasti merindukan kalian. Ku prgi dlu ya.. "
"Ajuma,
ajussi, kami pergi dulu y.." ujar Ryzka
kamipun
saling berpelukan sebagai tanda perpisahan
#ku
memang sengaja tak ngasih kabar dulu ke Donghae. Seandainya ku telfonpun, belum
tentu diangkat. Lagi pula ku ingin memberinya kejutan
@
Seoul, South Korea
Udara
di Korea, benar-benar dingin. Beda banget sama di Indonesia. Setelah turun dari
pesawat, kamipun langsung mnuju hotel yang sebelumnya sudah di pesan oleh appa
3 hari yang lalu.
Sesampainya
di hotel, ku mnuju lobi untuk mengkonfirmasi. sewaktu di lobi, ku terkejut ketika
ku lihat namja yang mirip banget sama Lee Donghae. Namja itupun pergi, dan ku
mencoba tanya kepada orang yang melayaninya barusan.
"maaf,
yang tadi itu namanya siapa?"
"Mianhae,
kami tak bisa memberitaukan privasi seseorang"
"owh,
ne.. Kamsahamnida"
Karena
penasaran, kupun mengikutinya dari belakang. Ryzka yg melihat ku meninggalkannya,
sontak menyebut namaku dengan suara cukup keras. Mndengar namaku di sebut, tiba-tiba
namja itu menghentikan langkahnya dan langsung memutar balik bdannya. Terlihat
kekagetan di raut mukanya ketika dia melihatku yang ternyata berada di
belakangnya.\
"Oppa...!!"
ucapku pelan
Lee
Donghae tetap diam melihatku, seolah ini hal yg sangat aneh baginya.
Ryzka
tetap saja memanggilku.
Namun
ku sama sekali tak memperdulikan Ryzka skarang. Tanpa sadar, perlahan kakiku melangkah
mendekatinya. Air mtakupun sdah tak bsa ku tahan lagi.
"Apa
benar ini kau??"
"..............(
Lee Donghae hanya diam menatapku)"
"kyaaa..
Ini sama sekali tak lucu. Ku bukan barang mainan Lee Donghae. Apa maksudmu tak
memberi kabar sama skali. Apa kau tau seberapa khawatirnya aku. Telfon selalu mati,
sms juga nggak pernah dibalas. Apa perasaanmu sudah berubah. Apakah kau masih
Lee Donghae yang ku kenal dulu...??"
karena
semua mata di lobi hotel tertuju pada kami, Donghae langsung menarik tanganku
dan membawaku ke suatu tempat. Sedangkan
Ryzka lebih memilih menungguku di Lobi.
@TAMAN
"sbenarnya
maksutmu apa dengan memperlakukanku seperti ini??"
"aku....."
"apa..??
Bahwa kau tak mencintaiku lagi. Kau mau bilang, aku hanya bermain dengamu.. Itu
kan.. Kau..!!!"
"ani..
Ku hanya.."
"sudah
ckup..!!! Kau pembohong besar Lee Donghae..!! Ku sangat membencimu "
Tiba-tiba
dia menciumku. Setelah itu kupun dipeluknya dengan erat.
"inilah
jawabanku atas semua pertanyaanmu. Apa kau masih berfikir seperti itu??"
"kau
jahat Lee Donghae..kau jahat “
"mianhae,
chagiya..mianhae. aku tak bermaksud begitu. Ku terlalu sibuk dengan bisnis
keluarga yang sedang aku jalankan"
Aku
terus menangis dipelukannya. Karena ku terus mnangis, Donghaepun mengusap air mataku.
"Hanya
kau yang ada dimata dan hatiku. Hanya kau"
"tapi
perlakuanmu ini buatku bingung, Oppa.... Ku takut perasaanmu berubah. Ku takut
akan kehilanganmu"
"ku
nggak kan meninggalkanmu, chagiya. percayalah"
Perasaan
khawatir itupun sudah terjawab. setelah itu kami kembali ke hotel dan menemui
Ryzka.
"
Mianhae, saengi. Kau menunggu lama."
"gwaenchana,
eonni.. Apakah dia.."
"Oppa
ini dongsaengku. "
"Annyeong
haseyo, Ryzka imnida. bangapseumnida"
"Ne,
Lee Donghae imnida. Nado bangapseumnida"
"omonaa,
eonni.. Namjachingumu begitu tampan" bisik Ryzka
Ku
hanya tersenyum mendengar pernyataannya.
Setelah
selesai konfirmasi, kamipun menuju kamar untuk istirahat sejenak. Ku
benar-benar lelah sekarang begitu juga Ryzka . Dan Lee Donghae, nggak tau di
buru-buru pulang, mungkin ada urusan mendadak.
Setelah
cukup beristirahat, ku berencana mengajak Ryzka untuk berkeliling kota untuk
menikmati suasana malam di kota Seoul. Meskipun sudah satu tahun ku
meninggalkan kota ini, setidaknya ku masih ingat tempat-tempat yang dulu sering
ku kunjungi.
Sewaktu
asik berjalan-jalan. Dan lagi-lagi hand phoneku berdering. Sewaktu ku lihat
layar hand phone, ternyata Lee Donghae yang menelfon.
“ne,
oppa.. waeyo??”
“kau
ada di mana?”
“aku
sedang jalan-jalan bersama Ryzka.”
“bisakah
kau ke sini?”
“eodie?”
“taman
belakang sekolah”
“sekarang??
Kalau sekarang ku tidak bisa”
“pokoknya
kau harus datang sekarang”
Titttttt..
“uhh..
dasar, selalu saja begini.”
“waeyo
eonni?”
“Lee
Donghae memintaku bertemu dengannya sekarang. Eotteokhae??”
“ya
sudah, eonni. Temui saja dia”
“tapi,
kau gimana?? Ahh.. bagaimana kalau ku antarkan kau ke rumah Hye Rin”
“Hye
Rin?? Siapa dia??”
“dia
sahabat terbaikku. Sudah tenang saja, kau pasti akan menyukainya. Dia orangnya
baik kok”
“okelah
kalau begitu”
Kupun
mengantarkan Ryzka ke rumah Hye Rin. Dan
bergegas menuju taman belakang sekolah.
“sebenarnya
apa yang sedang dia rencanakan. Kenapa malam-malam begini memintaku untuk ke
sana”
@taman
belakang sekolah
Sesampai
di sana, ku tak melihat Lee Donghae sama sekali.
Kupun
mencoba mencarinya, namun ku tak bertemu dengannya.
“sebenarnya
kau dimana. Apa dia mengerjaiku. Awas saja kalau dia benar-benar mengerjaiku”
Karena
capek mencarinya ku memutuskan untuk kembali ke rumah Hye Rin. Dapat beberapa
langkah, ku dengar ada alunan musik gitar dan seseorang yang sedang menyanyi.
Ku mengenali suara ini. Setelah ku membalikkan badan, ternyata benar itu Lee
Donghae.
Aku
yang melihatnya bernyanyi sangat terkesimah.
“oppa,,,??”
Dia
menyanyikan lagu Y yang dia ciptakan sendiri. Perlahan, air mataku terjatuh. Ku
benar-benar terharu. Seakan masa-masa setahun yang telah berlalu itu kembali ku
rasakan.
“Apa
kau menyukainya”
“aku
sangat menyukainya.”
Diapun
memelukku
“maaf
jika membuatmu mencariku. Ku hanya ingin menguji kesetiaanmu padaku”
“ini
sama sekali nggak lucu”
“aku
tau”
Sepanjang
malam itupun kuhabiskan waktu bersamanya. Sungguh ini sangat indah ku rasakan.
Ku tak menyangka ku bisa mendapatkan seorang namja sepertinya. Oh Tuhan, jangan
biarkan kami berpisah lagi. Ku ingin selalu bersamanya. Akan aku kenang
masa-masa ini untuk hari esok, masa depan, dan selamanya
The
End~